Selasa, 16 April 2013

Analisa Jurnal Gerontik



ANALISA JURNAL
A.     Analisa Jurnal (PICO)
1.       Patient and Clinical Problem (P) :
Penelitian ini dilakukan pada 768 lansia di Rotterdam, dengan usia 57-97 tahun yang memiliki faktor risiko penyakit kronis.
2.      Intervention (I) :
Pengukuran kebiasaan durasi tidur panjang dan pendek dikaitkan dengan kolesterol total dan high density lipoprotein (HDL) kolesterol pada lansia.
3.      Comparator (C) :
Sejumlah penelitian sebelumnya melaporkan bahwa hubungan linear terbalik antara durasi tidur dan indeks massa tubuh (BMI) atau hubungan antara durasi tidur pendek dan obesitas. Beberapa penulis menemukan hubungan yang berbentuk, menunjukkan bahwa durasi tidur pendek maupun panjang terkait dengan peningkatan risiko BMI tinggi. Hanya beberapa studi telah meneliti hubungan antara parameter tidur dan tingkat kolesterol, dengan hasil yang bertentangan (Bjorvatn, et al ). Tidak menemukan hubungan antara durasi tidur dan kadar kolesterol total dalam rentang usia 40 sampai 45 tahun setelah disesuaikan dengan jenis kelamin, perilaku merokok, dan indeks massa tubuh. (Williams et al.) ditemukan penurunan kolesterol (high density lipoprotein) HDL dengan durasi tidur pendek dan panjang dengan tekanan darah normal, tapi tidak pada wanita hipertensi berusia 43 sampai 69 tahun dengan diabetes. Peneliti menggunakan data polysomnographic untuk menguji hubungan antara parameter tidur dan kadar kolesterol pada 24 orang dewasa muda dan menemukan bahwa waktu tidur total berhubungan dengan tingkat LDL / HDL. Selain itu, mereka melaporkan bahwa pola tidur lebih lama berhubungan dengan total kolesterol dan lipid yang lebih tinggi.
Sedangkan peneliti saat ini menyelidiki apakah durasi tidur, waktu di tempat tidur, dan gangguan tidur berpengaruh dengan kadar kolesterol, pada populasi masyarakat pada lansia. Metode penelitian cross-sectional dengan analisis regresi untuk menyelidiki mengukur hubungan TST actigraphically, TIB, dan indeks fragmentasi dengan kadar kolesterol, kadar kolesterol HDL, dan tingkat kolesterol total / HDL.
4.      Outcome (O) :
Durasi tidur yang lebih lama dapat meningkakan total kadar kolesterol dan rasio total / kolesterol HDL. Diharapkan lansia tidak tidur terlalu lama dan lebih sering beraktivitas.

B.     Konten/Isi Jurnal
1.       Abstrak
Tujuan: Studi epidemiologis telah berulang kali menemukan angka kematian meningkat terkait dengan kedua kelompok yaitu kebiasaan durasi tidur lama dan sebentar. Mekanisme di balik asosiasi ini tidak jelas. Kami meneliti apakah obyektif mengukur durasi tidur, waktu di tempat tidur, dan gangguan tidur dikaitkan dengan kolesterol total dan (high density lipoprotein) HDL dalam kolesterol masyarakat lansia. 
Metode: Penelitian cross-sectional dilakukan di antara 768 lansia di Rotterdam, dengan usia 57-97 tahun. Parameter tidur dinilai dengan actigraphy, metode divalidasi yang menyimpulkan klien tidurnya terjaga dan bebas dari gerakan. Kadar kolesterol dalam serum ditentukan dalam sampel darah puasa. Semua analisis regresi yang disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, merokok, gejala depresi, dan gagal jantung. 
Hasil: durasi tidur lama positif berhubungan dengan tingkat kolesterol total: β - 0,11 (tingkat kepercayaan 95%, interval - 0,03-0,18) mmol /jam tidur. Orang yang tidur lebih lama, dan menghabiskan lebih banyak waktu di tempat tidur, juga memiliki rasio total / kolesterol HDL yang lebih tinggi. Seseorang yang kurang tidur terfragmentasi juga dikaitkan dengan total kolesterol yang lebih tinggi. Beberapa asosiasi menunjukkan interaksi yang signifikan dengan usia. Hubungan antara waktu di tempat tidur dan total / HDL rasio terutama didorong oleh orang-orang yang berusia <65, sedangkan hubungan antara durasi tidur lama dan kadar kolesterol total yang paling menonjol pada orang berusia ≥70. 
Kesimpulan: lama durasi tidur lebih panjang adalah berkaitan dengan total kadar kolesterol yang lebih tinggi dan rasio total / kolesterol HDL yang lebih tinggi pula. Dua mekanisme yang terpisah, waktu yang lebih lama di tempat tidur dan gangguan tidur, tampaknya menjelaskan asosiasi dalam kategori usia yang berbeda. 
Kata kunci: durasi tidur, gangguan tidur, actigraphy, kolesterol, lansia, epidemiologi.
2.      Pendahuluan
Studi epidemiologis telah berulang kali menemukan tingkat kematian yang lebih tinggi dan cepat, yaitu lama durasi tidur yang panjang, biasanya lebih dari 8 jam per malam, dan lama durasi tidur yang pendek, yaitu, kurang dari 7 jam per malam. Banyak penyakit yang akan ditimbulkan seperti penyakit jantung adalah penyebab utama kematian bagi pria dan wanita dewasa di negara maju, banyak studi telah meneliti hubungan antara durasi tidur dan penyakit kardiovaskular. Sejumlah penelitian melaporkan bahwa hubungan linear terbalik antara durasi tidur dan indeks massa tubuh (BMI) atau hubungan antara durasi tidur pendek dan obesitas. Penelitian lain, terkait dengan jumlah waktu tidur terhadap hipertensi, metabolisme glukosa atau risiko diabetes. Untuk pengetahuan kita, hanya beberapa studi telah meneliti hubungan antara parameter tidur dan tingkat kolesterol, dengan hasil yang bertentangan (Bjorvatn, et al. ) tidak menemukan hubungan antara durasi tidur dan kadar kolesterol total dalam rentang usia 40 sampai 45 tahun setelah disesuaikan dengan jenis kelamin, perilaku merokok, dan indeks massa tubuh.
Kami menyelidiki apakah durasi tidur, waktu di tempat tidur, dan gangguan tidur berpengaruh dengan kadar kolesterol, pada populasi masyarakat lansia. Adanya hubungan antara perubahan kolesterol dan kesehatan dengan bertambahnya usia, kami juga meneliti efek kemungkinan interaksi tidur dengan usia. Semua parameter tidur diukur dengan actigraphy. Actigraphy adalah alat yang digunakan untuk merekam adanya pergerakan waktu tidur. Beberapa penulis telah menyimpulkan bahwa actigraphy merupakan metode yang dapat diandalkan untuk menilai pola tidur pada orang dewasa.
3.      Metode
a.       Populasi
Penelitian ini berada di Rotterdam, berdasarkan populasi kohort penelitian yang bertujuan menilai terjadinya faktor risiko penyakit kronis pada lansia. Desember 2004, diperoleh bantuan tenaga untuk melakukan studi actigraphy tambahan, saat ini dan seterusnya terdapat 1.515 lansia diminta untuk mengambil bagian dalam studi actigraphy, 1076 (71%) di antaranya setuju. Kita tidak bisa mencakup setiap orang yang mengunjungi pusat penelitian karena terbatasnya jumlah actigraphs. Data actigraphy berlaku setidaknya untuk dua malam dan data untuk kadar kolesterol yang tersedia untuk 986 responden. Responden yang menggunakan obat penurun kolesterol (n=218) dikeluarkan, sehingga didapatkan populasi penelitian 768 orang responden. Secara total, dari 4726 malam diukur dengan actigraphic (mean, 6,2 ± 1.1) dicatat tiap responden. Komite Etika Medis Erasmus University Rotterdam menyetujui Studi Rotterdam dan informed consent tertulis disetujui oleh semua responden.
b.      Pengukuran Tingkat Kolesterol
Kolesterol total dan konsentrasi kolesterol HDL dalam serum ditentukan dalam waktu 2 minggu setelah pengambilan sampel dengan prosedur enzimatik otomatis dalam sampel darah puasa yang dilakukan di pusat penelitian.
c.       Parameter Tidur
Untuk mendapatkan parameter tidur secara obyektif, kami menggunakan model Actiwatch AW4 (Cambridge Neurotechnology Ltd), sebuah actigraph yang bisa dipakai seperti jam tangan dan dilengkapi dengan tombol penanda tidur. Responden diminta untuk memakai actigraph terus menerus selama 5-7 hari berturut-turut, pada pergelangan tangan yang dominan.
d.      Analisis statistik
Metode penelitian cross-sectional dengan analisis regresi untuk menyelidiki mengukur hubungan TST actigraphically, TIB, dan indeks fragmentasi dengan kadar kolesterol, kadar kolesterol HDL, dan tingkat kolesterol total / HDL. Data yang ada dianalisis kembali dengan kriteria eksklusi kemungkinan responden dengan sleep apnea, analisis tambahan dilakukan untuk lebih mengeksplorasi hubungan yang bermakna. Semua analisis dilakukan dengan SPSS versi 11.0 (SPSS Inc, Chicago, IL).
4.      Hasil
a.       Karakteristik populasi penelitian
Karakteristik populasi penelitian ini berdasarkan usia, rata-rata adalah 68,5 tahun (kisaran, 57-97) dan 52,9% adalah perempuan. Sebuah analisis nonresponse menunjukkan bahwa tidak menanggapi, yang mengunjungi pusat penelitian, tetapi menolak untuk berpartisipasi dalam studi actigraphy (n=439) dengan rata-rata 1,9 tahun lebih tua dari responden (p < 0,001) Dan mayoritas perempuan (28,7% vs 22,0%, p=0,004). Penolakan untuk berpartisipasi itu tidak terkait dengan rata-rata durasi tidur yang dilaporkan dalam wawancara di rumah, atau dengan kadar kolesterol.
b.      Durasi Tidur
Rata-rata populasi penelitian kami, awal tidur 06:32 (SD=0:50) jam per malam, dari jam 08:19 (SD=0:47) mereka habiskan di tempat tidur. TST dan TIB yang terkait satu sama lain: koefisien korelasi Pearson antara TST dan TIB adalah 0,68 (p <0.001). Korelasi ini tidak berbeda antara kelompok umur.
c.       Tingkat Kolesterol
Dalam analisa menunjukkan bahwa orang-orang dengan TST  tinggi memiliki kadar kolesterol total yang lebih tinggi (0,11 mmol / l per jam TST, tingkat kepercayaan 95% (CI): 0,03-0,18). R2 dari model keseluruhan, yaitu hubungan linier antara TST actigraphic dan kolesterol total dengan penyesuaian untuk usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, perilaku merokok, gejala depresi, dan gagal jantung, adalah 0,12. R2 dari model dengan hanya TST actigraphic sebagai variabel independen adalah 0,02. TST juga berkaitan dengan rasio yang lebih tinggi, yaitu kurang menguntungkan, total / HDL (β=0,12; 95% CI, 0,02-0,22). R2 dari model ini adalah 0,09, dari model disesuaikan 0,00.

d.      Hubungan Durasi Tidur dan Tingkat Kolesterol
Hasil analisis parameter tidur, dilakukan pada 714 peserta dengan tanggapan yang valid pada kedua PPD dan TIB. Ada hubungan linear antara kedua TST dilaporkan dan HDL-kolesterol (β = -0,04; 95% CI, -0,06 sampai -0,02; p=0,001), dan antara yang dilaporkan TST dan rasio total / HDL (β = 0,09, 95% CI, 0,02-0,16, p=0,01). Hubungan antara TIB dan HDL-kolesterol juga signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa TST terkait dengan tingkat HDL-kolesterol dan rasio total / HDL yang lebih tinggi, yang sejalan dengan hasil dari data actigraphic. Namun, berbeda dengan hasil dengan TST actigraphic, tidak ada hubungan antara dilaporkan sendiri TST atau TIB dan tingkat kolesterol total. Kecuali untuk hubungan antara TST dan tingkat kolesterol HDL, semua hubungan yang kuat dengan data actigraphic dibandingkan dengan laporan dari data.

5.      Pembahasan
Dalam studi cross-sectional dari 768 masyarakat yang tinggal pada lansia, yang tidak menggunakan obat penurun kolesterol, durasi tidur yang lebih lama dibandingkan dengan tingkat kolesterol total dan kadar lipid yang lebih tinggi. Harus dicatat bahwa varians dijelaskan dari model regresi yang sederhana. Durasi tidur lebih lama adalah sangat terkait dengan waktu yang lebih lama di tempat tidur, penggunaan actigraphy memungkinkan perbedaan antara waktu di tempat tidur dan durasi tidur. Analisis kami menunjukkan bahwa hubungan antara durasi tidur dan kolesterol didorong oleh hubungan yang kuat antara waktu yang lebih lama di tempat tidur dan kadar kolesterol total yang lebih tinggi pada kelompok usia termuda < 65 tahun. Namun, pada orang berusia 70 atau lebih, hubungan antara durasi tidur dan kolesterol tampaknya dijelaskan oleh gangguan tidur yang berhubungan dengan tingkat kolesterol total yang lebih rendah.
Pada kelompok usia termuda orang berusia 59 sampai 64, baik PPD dan TIB dikaitkan dengan kolesterol total yang lebih tinggi, kolesterol HDL rendah, dan karena itu dengan rasio total / HDL yang lebih tinggi. Ini tidak terjadi pada orang berusia 65 tahun. Tampaknya, dalam karakteristik usia yang lebih muda, durasi tidur lebih lama berhubungan dengan profil lipid yang lebih tinggi. Dalam kelompok peserta di atas usia 70, orang-orang dengan fragmentasi tidur tinggi memiliki menurunkan kadar kolesterol total, sedangkan fragmentasi tidur tidak terkait dengan salah satu langkah kolesterol lain dalam kelompok usia lainnya.
  
C.     Kritik Jurnal
1.       Substansi
·         Kelebihan
Jurnal sangat berkontribusi dalam bidang keperawatan geriatrik terutama untuk menambah pengetahuan dalam penanganan lansia yang memiliki riwayat kolesterol supaya lebih menjaga kualitas tidurnya.
·         Kekurangan
Untuk mendapatkan parameter tidur secara obyektif, peneliti menggunakan model Actiwatch AW4 (Cambridge Neurotechnology Ltd), sebuah actigraph yang bisa dipakai seperti jam tangan dan dilengkapi dengan tombol penanda tidur. Alat ini yang akan menjadi kendala karena jumlah yang terbatas dan tidak semua instansi memiliki.
2.      Teori
·         Kelebihan
Didalam setiap pembahasan peneliti menyertakan teori-teori yang mendukung sehingga memudahkan pembaca untuk menangkap semua hasil yang didapatkan. dijelaskan juga factor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kolesterol yang diakibatkan oleh kualitas tidur.
·         Kekurangan
Ada beberapa teori yang kurang dalam jurnal ini seperti penjelasan tentang kualitas tidur, factor yang mempengaruhi kualitas tidur, patofisiologi kolesterol, penyebabnya yang sangat dibutuhkan oleh pembaca untuk pengetahuan tambahan. 
3.      Metodologi
·         Kelebihan
Metode penelitian yang digunakan sudah tepat yaitu cross-sectional dengan analisis regresi. Data yang ada dianalisis kembali dengan kriteria eksklusi untuk lebih mengeksplorasi hubungan yang bermakna. Semua analisis dilakukan dengan SPSS versi 11.0 (SPSS Inc, Chicago, IL). Parameter yang digunakan juga sudah sangat bagus yaitu untuk pengukuran tingkat kolesterol sampel diambil dengan prosedur enzimatik otomatis dalam sampel darah puasa yang dilakukan di pusat penelitian. Sedangkan untuk parameter tidur secara obyektif, peneliti menggunakan model Actiwatch AW4 (Cambridge Neurotechnology Ltd).
·         Kekurangan
-
4.      Interprestasi
·         Kelebihan
Penyajian data sudah disertakan tabel  dan keterangannya. Tabel yang dibuat secara terpisah dari masing-masing variabel lebih memudahkan kita dalam mengetahui hasil penelitian.
·         Kekurangan
Penyampaian data masih kurang lengkat, tidak dijelaskan tahun dan tempat dimana penelitian dilakukan. Dan penyampaian data masih kurang dapat dipahami. 
5.      Etika
·         Kelebihan
Dalam jurnal ini responden yang diteliti dirahasiakan. Setelah dapat persetujuan resmi maka peneliti akan melibatkan peserta dalam proses penelitian, tetapi peneliti sangat menghormati dan tidak memaksa responden yang tidak bersedia.
·         Kekurangan
_
6.      Gaya penulisan
·         Kelebihan
Dalam jurnal ini gaya penulisan sudah  baik, terdapat keterangan tabel dan penjelasan dari masing-masing tabelnya, penampilan jurnal juga rapi. Lengkap dari abstrak sampai daftar pustaka.
·         Kekurangan
Peneliti tidak mencantumkan nama pengarang yang diambil pada teori-teori yang digunakan dalam penbahasan jurnalnya. Hanya mencantumkan nomor referensi yang sudah diurutkan dalam daftar pustaka saja. Hal ini lebih menyulitkan pembaca untuk mengetahui teori yang digunakan itu dari siapa.

D.    Critical Thinking
Durasi tidur yang lebih lama sangat berkaitan dengan total kadar kolesterol yang lebih tinggi dan rasio total / kolesterol HDL yang lebih tinggi pula. Hal ini disebabkan karena bila tidur lebih lama maka aktifitas fisik menjadi kurang. Aktifitas fisik yang kurang dapat menyebabkan peningkatan kolesterol. Karena olahraga dan aktifitas fisik juga dapat memperbaiki profil lemak darah, yaitu menurunkan kadar kolesterol total, LDL kolesterol dan trigliserida. Bahkan yang paling baik adalah dapat memperbaiki HDL, yaitu suatu jenis kolesterol yang kadarnya sulit untuk dinaikkan. Di samping itu berbagai faktor risiko seperti hipertensi, obesitas dan diabetes mellitus dapat diturunkan dengan menjalankan olahraga yang tepat takaran, durasi dan frekwensinya (Almatsier, 2002).
Dua mekanisme yang terpisah, waktu yang lebih lama di tempat tidur dan gangguan tidur, tampaknya menjelaskan asosiasi dalam kategori usia yang berbeda. Hubungan yang kuat antara waktu yang lebih lama di tempat tidur dan kadar kolesterol total yang lebih tinggi pada kelompok usia termuda < 65 tahun. Pada usia tersebut fungsi metabolisme masih belum mengalami penurunan secara berarti karena usia 55 – 64 tahun termasuk kelompok lansia dini yaitu merupakan kelompok yang baru memasuki lansia (Depkes dikutip dari Azis,1994). Sehingga membutuhkan aktufitas fisik yang cukup untuk menjaga metabolisme tubuh khususnya untuk menyetabilkan kadar kolesterol. Karena sebagaimana yang sudah dijelaskan diatas bahwa aktifitas fisik yang kurang dapat menyebabkan peningkatan kolesterol.
Namun, pada orang berusia 70 atau lebih, hubungan antara durasi tidur dan kolesterol tampaknya dijelaskan oleh gangguan tidur yang berhubungan dengan tingkat kolesterol total yang lebih rendah. Hal ini mungkin disebabkan oleh menurunnya metabolisme dalam tubuh. Karena pada usia 70 tahun termasuk kelompok lansia dengan resiko tinggi (Depkes dikutip dari Azis,1994). Sehingga meskipun waktu tidurnya lama atau aktifitas fisik yang kurang tidak begitu mempengaruhi peningkatan kadar kolesterol. Kadar kolesterol total yang rendah pada lansia dapat juga dipengaruhi oleh beberapa factor misalnya : insomnia, gangguan gerakan tungkai periodik, nokturia, nyeri, sakit, kebisingan lingkungan, atau mitra tidur mendengkur. Beberapa penyebab terutama penyakit, mungkin menjadi dasar umum untuk hubungan durasi tidur yang panjang dengan rendahnya tingkat kolesterol total. Kadar kolesterol yang rendah juga dapat menjadi penanda kesehatan yang buruk pada lansia.

LP ANC (Ante Natal Care)


TINJAUAN TEORI

A.     KONSEP KEHAMILAN
1.      Pengertian Kehamilan
·         Periode Antepartum adalah periode kehamilan yang dihitung sejak hari pertama haid terakhir (HPHT) hingga dimulainya persalinan sejati, yang menandai awal periode antepartum (Helen Varney, 2007 ; 492).
·         Proses kehamilan merupakan mata rantai yang bersinambung dan terdiri dari : ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi dan pertumbuhan zigot, nidasi ( implantasi ) pada uterus, pembentukan plasenta dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm (Manuaba, 2010 ; 84).
·         Kehamilan normal adalah dari konsepsi sampai lahirnya janin dengan kehamilan 280 hari ( 40 minggu ) dihitung dari hari pertama haid terakhir (Sarwono, 2007; 84).

2.      Proses Kehamilan
a.       Fertilisasi
Yaitu bertemunya sel telur dan sel sperma. Tempat bertemunya ovum dan sperma paling sering adalah didaerah ampulla tuba. Sebelum keduanya bertemu, maka akan terjadi 3 fase yaitu:
1.      Tahap penembusan korona radiata
Dari 200 – 300 juta hanya 300 – 500 yang sampai di tuba fallopi yang bisa menembus korona radiata karena sudah mengalami proses kapasitasi.
2.      Penembusan zona pellusida
Spermatozoa lain ternyata bisa menempel dizona pellusida, tetapi hanya satu terlihat mampu menembus oosit.
3.      Tahap penyatuan oosit dan membran sel sperma
Setelah menyatu maka akan dihasilkan zigot yang mempunyai kromosom diploid (44 autosom dan 2 gonosom) dan terbentuk jenis kelamin baru (XX unutk wanita dan XY untuk laki - laki)
b.      Pembelahan
Setelah itu zigot akan membelah menjadi tingkat 2 sel (30 jam), 4 sel , 8 sel, sampai dengan 16 sel disebut blastomer (3 hari) dan membentuk sebuah gumpalan bersusun longgar. Setelah 3 hari sel – sel tersebut akan membelah membentuk morula (4 hari). Saat morula masuk rongga rahim, cairan mulai menembus zona pellusida masuk kedalam ruang antar sel yang ada di massa sel dalam. Berangsur – angsur ruang antar sel menyatu dan akhirnya terbentuklah sebuah  rongga/blastokel sehingga disebut blastokista (4 – 5 hari). Sel bagian dalam disebut embrioblas dan sel diluar disebut trofoblas. Zona pellusida  akhirnya menghilang sehingga trofoblast bisa masuk endometrium dan siap berimplantasi (5 – 6 hari) dalam bentuk blastokista tingkat lanjut.
c.       Nidasi / implantasi
Yaitu penanaman sel telur yang sudah dibuahi (pada stadium blastokista) kedalam dinding uterus pada awal kehamilan. Biasanya terjadi pada pars superior korpus uteri bagian anterior/posterior. Pada saat implantasi selaput lendir rahim sedang berada pada fase sekretorik ( 2 – 3 hari setelah ovulasi). Pada saat ini, kelenjar rahim dan pembuluh nadi menjadi berkelok – kelok. Jaringan ini mengandung banyak cairan.
(Marjati,dkk.2010 ; 37)

3.      Pertumbuhan dan Perkembangan Embrio
a.       Masa pre embrionic
Berlangsung selama 2 minggu sesudah terjadinya fertilisasi terjadi proses pembelahan sampai dengan nidasi. Kemudian bagian inner cell mass akan membentuk 3 lapisan utama yaitu ekstoderm, endoderm serta mesoderm.
b.      Masa embrionic
Berlangsung sejak 2 – 6 minggu sistem utama didalam tubuh telah ada didalam bentuk rudimenter. Jantung menonjol dari tubuh dan mulai berdenyut. Seringkali disebut masa organogenesis/ masa pembentukan organ.
c.       Masa fetal
Berlangsung setelah 2 minggu ke-8 sampai dengan bayi lahir
Minggu ke-12     : Panjang tubuh kira – kira 9 cm, berat 14 gram, sirkulasi tubuh berfungsi secara penuh, tractus renalis mulsi berfungsi, terdapat refleks menghisap dan menelan, genitalia tampak dan dapat ditentukan jenis kelaminnya.
Minggu ke 16     : Panjang badan  16 cm, berat 10 gram, kulit sangat transparan sehingga vaso darah terlihat, deposit lemak subkutan lemak terjadi rambut mulai tumbuh pada tubuh.
Minggu ke 20     : Kepala sekarang tegak dan merupakan separuh PB, wajah nyata, telinga pada tempatnya, kelopak mata, lais dan kuku tumbuh sempurna. Skeleton terlihat pada pemeriksaan sinar X  kelenjar minyak telah aktif dan verniks kaseosa akan melapisi tubuh fetus, gerakan janin dapat ibu setelah kehamilan minggu ke 18, traktus renalis mulai berfungsi dan sebanyak 7 – 17 ml urine dikeluarkan setiap 24 jam.
Minggu ke 24     : Kulit sangat keriput, lanugo menjadi lebih gelap dengan vernix kaseosa meningkat. Fetus akan menyepak dalam merespon rangsangan.
Minggu ke 28     : Mata terbuka, alis dan bulu mata telah berkembang dengan baik, rambut menutupi kepala, lebih banyak deposit lemak subkutan menyebabkan kerutan kulit berkurang, testis turun ke skrotum.
Minggu ke 32     : Lanugo mulai berkurang, tubuh mulai lebih membulat karena lemak disimpan disana, testis terus turun.
Minggu ke 36     : Lanugo sebagian besar terkelupas, tetapi kulit masih tertutup verniks kaseosa, testis fetus laki – laki terdapat didalam skrotum pada minggu ke 36 ovarium perempuan masih berada di sekitar batas pelvis, kuku jari tangan dan kaki sampai mencapai ujung jari, umbilikus sekarang terlihat lebih dipusat abdomen.
Minggu ke 40     : Osifikasi tulang tengkorak masih belum sempurna, tetapi keadaan ini merupakan keuntungan dan memudahkan fetus melalui jalan lahir. Sekarang terdapat cukup jaringan lemak subkutan dan fetus mendapatkan tambahan BB hampir 1 kg pada minggu tersebut.
(Marjati,dkk, 2010; 39)

4.      Tanda dan Gejala Kehamilan
1.      Tanda presumtif kehamilan
·         Amenore (terlambat datang bulan)
Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadinya pembentukan folikel de Graff dan ovulasi di ovarium. Gejala ini sangat penting karena umumnya wanita hamil tidak dapat haid lagi selama kehamilan, dan perlu diketahui hari pertama haid terrakhir untuk menentukan tuanya kehamilan dan tafsiran persalinan.
·         Mual muntah
Umumnya tejadi pada kehamilan muda dan sering terjadi pada pagi hari. Progesteron dan estrogen mempengaruhi pengeluaran asam lambung yang berlebihan sehingga menimbulkan mual muntah.


·         Ngidam
Menginginkan makanan/minuman tertentu, sering terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan tetapi menghilang seiring tuanya kehamilan.
·         Sinkope atau pingsan
Terjadi sirkulasi ke daerah kepala (sentral) menyebabkan iskemia susunan saraf dan menimbulkan sinkope/pingsan dan akan menghilang setelah umur kehamilan lebih dari 16 minggu.
·         Payudara tegang
Pengaruh estrogen, progesteron, dan somatomamotropin menimbulkan deposit lemak, air, dan garam pada payudara menyebabkan rasa sakit terutama pada kehamilan pertama.
·         Anoreksia nervousa
Pada bulan-bulan pertama terjadi anoreksia (tidak nafsu makan), tapi setelah itu nafsu makan muncul lagi.
·         Sering kencing
Hal ini sering terjadi karena kandung kencing pada bulan-bulan pertama kehamilan tertekan oleh uterus yang mulai membesar. Pada triwulan kedua umumnya keluhan ini hilang karena uterus yang membesar keluar rongga panggul.
·         Konstipasi/obstipasi
Hal ini terjadi karena tonus otot menurun disebabkan oleh pengaruh hormone estrogen.
·         Epulis
Hipertrofi gusi disebut epulis dapat terjadi pada kehamilan.
·         Pigmentasi
Terjadi pada kehamilan 12 minggu keatas
Pipi                      : - Cloasma gravidarum
Keluarnya melanophore stimulating hormone hipofisis anterior menyebabkan pigmentasi yang berlebihan pada kulit.
Perut                    : - Striae livide
Striae albican
Linea alba makin menghitam
Payudara            : - hipepigmentasi areola mamae
·         Varises atau penampakan pembuluh vena
Karena pengaruh estrogen dan progesteron terjadi penampakan pembuluh darah vena. Terutama bagi mereka yang mempunyai bakat. Penampakan pembuluh darah itu terjadi disekitar genitalia eksterna, kaki dan betis erta payudara.

2.      Tanda Kemungkinan (Probability Sign)
·         Pembesaran Perut
Terjadi akibat pembesaran uterus. Hal ini terjadi pada bulan keempat kehamilan.
·         Tanda Hegar
Tanda Hegar adalah pelunakan dan dapat ditekannya isthmus uterus.
·         Tanda Goodel
Pelunakan serviks
·         Tanda Chadwiks
Perubahan warna menjadi keunguan pada vulva dan mukosa vagina termasuk juga porsio dan serviks.
·         Tanda Piskacek
Pembesaran uterusyang tidak simetris. Terjadi karena ovum berimplantasi pada daerah dekat dengan kornu sehingga daerah tersebut berkembang lebih dulu.
·         Kontraksi Braxton Hicks
Peregangan sel – sel otot uterus, akibat meningkatnya actomycin didalam otot uterus. Kontraksi ini tidak beritmik, sporadis, tidak nyeri, biasanya timbul pada kehamilan 8 minggu.
·         Teraba Ballotement
Ketukan yang mendadak pada uterus menyebabkan janin bergerak dalam cairan ketuban yang dapat dirasakan oleh tangan pemeriksa.
·         Pemeriksaan tes biolgis kehamilan (planotest) positif
Pemeriksaan ini adaah untuk mendeteksi adanya hCG yang diproduksi oleh sinsitotrofoblas sel selama kehamilan. Hormon ini disekresi diperedaran darah ibu (pada plasma darah), dan diekskresi pada urine ibu.
3.      Tanda Pasti (Positive Sign)
·         Gerakan janin dalam rahim
Gerakan janin ini harus dapat diraba dengan jelas oleh pemeriksa. Gerakan ini baru dapat dirasakan pada usia kehamilan sekitar 20 minggu.
·         Denyut jantung janin
Dapat didengar pada usia 12 minggu dengan menggunakan alat fetal electrocardiograf ( misalnya doppler)
·         Bagian bagian janin
Bagian besar janin (kepala dan bokong) serta bagian kecil janin (lengan dan kaki) dapat diraba dengan jelas pada usia kehamilan lebih tua (trimester akhir)
·         Kerangka janin
Kerangka janin dapat dilihat dengan foto rontgen maupun USG
(Marjati dkk, 2010:72-75)
5.       Perubahan Fisiologis Ibu Hamil
a.       Uterus
Uterus bertambah besar semula 30 gram menjadi 1000 gram, pembesaran ini dikarenakan hipertropi oleh otot-otot rahim.
b.      Vagina
·         Elastisitas vagina bertambah
·         Getah dalam vagina biasannya bertambah, reaksi asam PH :3,5-6
·         Pembuluh darah  dinding vagina bertambah, hingga waran selaput lendirnya berwarna kebiru- biruan (Tanda chadwick).
c.       Ovarium (Indung Telur)
Ovulasi terhenti, masih terdapt corpus luteum graviditatis sampai terbentuknya uri yang mengambil alih pengeluaran estrogen dan progesteron.
d.      Kulit
Terdapat hiperpigmentasi antara lain pada areola normal, papila normal, dan linea alba.
e.       Dinding perut
Pembesaran rahim menimbulkan peregangan dan menyebabkan perobekan selaput elestis di bawah kulit sehingga timbul strie gravidarum.
f.       Payudara
Biasanya membesar dalam kehamilan, disebabkan hipertropi dari alveoli puting susu biasanya membesar dan berwarna lebih tua. Areola mammae melebar dan lebih tua warnannya.
g.      Sistem Respirasi
Wanita hamil tekadang mengeluh sering sesak nafas, yang sering ditemukan pada kehamilan 3 minggu ke atas. Hal ini disebabkan oleh usus yang tertekan kearah diafragma akibat pembesaran rahim, kapasitas paru meningkat sedikit selama kehamilan sehingga ibu akan bernafas lebih dalam. Sekitar 20-25%.
h.      Sistem urinaria
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kemih tertekan oleh uterus yang membesar, dimana kebutuhan nutrisi makin tinggi untuk pertumbuhan janin dan persiapan pemberian ASI.

6.      Perubahan Psikologis Ibu Hamil
a.       Trimester Pertama
Segera setelah terjadi  peningkatan hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh maka akan segera muncul  berbagai ketidaknyamanan secara fisiologis pada ibu misalnya mual muntah , keletihan dan pembesaran pada payudara. Hal ini akan memicu perubahan psikologi seperti berikut ini.
1.      Ibu akan membenci kehamilannya, merasakan kekecewaan, penolakan, kecemasan dan kesedihan
2.      Mencari tahu secara aktif apakah memang benar – benar hamil dengan memperhatikan perubahan pada tubuhnya dan seringkali memberitahukan orang lain apa yang dirahasiakannya
3.      Hasrat melakukan seks berbeda – beda pada setiap wanita. Ada yang meningkat libidonya, tetapi ada juga yang mengalami penurunan. Pada wanita yang mengalami penurunan libido, akan menciptakan suatu kebutuhan untuk berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan suami.
4.      Bagi calon suami sebagai calon ayah akan timbul kebanggan, tetapi bercampur dengan keprihatinan akan kesiapan untuk mencari nafkah bagi keluarga.
b.      Trimester Kedua
Trimester kedua biasanya ibu merasa sehat dan sdah terbiasa dengan kadar hormon yang tinggi, serta rasa tidak nyaman akibat kehamilan  sudah mulai berkurang. Perut ibu pun belum terlalu besar sehingga belum terlalu dirasakan ibu sebagai beban. Ibu sudah menerima kehamilannya dan dapat mulai menggunakan energi dan pikirannya secara lebih kontruktif. Pada trimester ini pula ibu dapat merasakan gerakan janinnya dan ibu mulai meraskaan kehadiran bayinya sebagai seseorang diluar dirinya dan dirinya sendiri. Banyak ibu yang merasa terlepas dari kecemasan dan rasa tidak nyaman seperti yang dirasakannya pada trimester pertama dan merasakan meningkatnya libido.
c.       Trimester ketiga
Trimester ketiga biasanya disebut dengan periode menunggu dan waspada sebab pada saat itu ibu tidak sabar menunggu kehadiran bayinya. Gerakan bayi dan membesarnya perut merupakan dua hal yang mengingatkan ibu akan lahir sewaktu – waktu. Ini menyebabkan ibu meningkatkan kewaspadaannya akan timbulnya tanda dan gejala terjadinya persalinan pada ibu. Seringkali ibu  merasa khawatir  atau takut kalu – kalau bayi yang akan dilahirkannya tidak normal. Kebanyakan ibu juga akan bersikap melindungi bayinya dan akan menghindari orang atau benda apa saja yang dianggap membahayakan bayinya. Seorang ibu mungkin mulai merasa takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang akan timbul pada waktu melahirkan. Trimester juga saat persiapan aktif untuk kelahiran bayinya dan menjadi orang tua.keluarga mulai menduga – duga apakah bayi mereka laki – laki atau perempuan dan akan mirip siapa. Bahkan sudah mulai memilih nama unutk bayi mereka.
(Marjati dkk, 2010 ; 68 - 69)
7.      Ketidaknyamanan Umum selama Kehamilan
a.       Nausea
Nausea terjadi pada saat perut kosong sehingga biasanya lebih parah di pagi hari. Penyebab morning sickness masih belum diketahui secara pasti, perubahan hormon selama kehamilan, kadar gula darah yang rendah (mungkin disebabkan oleh tidak makan sehingga mengakibatkan siklus yang tidak berujung pangkal), lambung yang terlalu penuh, peristaltik yang lambat dan faktor – faktor emosi yang lain.puncak nausea dan muntah pada wanita hamil adalah pada usia kandungan 11 minggu dan menghilang antara umur kehamilan 14 – 22 minggu.
Cara meringankan:
·         Makan porsi kecil, sering bahkan setiap dua jam
·         Makan biskuit kering atau roti bakar sebelum beranjak dari tempat tidur dipagi hari
·         Jangan menyikat gigi segera setelah makan untuk menghindari stimulasi refleks gag.
·         Istirahat
·         Gunakan obat – obatan
Tanda bahaya      : hiperemesis gravidarum, kehilangan berat badan, tanda – tanda kurang gizi
b.      Peningkatan Frekuensi berkemih (TM I dan TM III)
Frekuensi kemih meningkat pada trimester pertama terjadi akibat peningkatan berat pada fundus uterus sehingga membuat isthmus menjadi lunak (tanda hegar) menyebabkan antefleksi pada uterus yang membesar akibat adanya tekananlangsung pada uterus yang membesar. Frekuensi kemih meningkat pada trimester  ketiga sering dialami wanita primigravida setelah lightening terjadi efek lightaning yaitu bagian presentasi akan menurun masuk kedalam panggul dan menimbulkan tekanan langsung pada kandung kemih.
Cara meringankan:
·         Kosongkan kandung kemih saat terasa dorongan ingin kencing
·         Banyak minum di siang hari
·         Kurangi minum di malam hari.
Tanda – tanda bahaya : dysuria, oliguria, asymtomatic bacteriuria
c.       Sakit punggung Atas dan Bawah
Karena tekanan terhadap akar syaraf sehingga kejang otot, ukuran payudara yang semakin bertambah atau keletihan. Sebagian besar disebabkan karena perubahan sikap badan pada kehamilan lanjut karena titik berat badan berpindah kedepan disebabkan perut yang membesar. Ini diimbangi dengan lordosis yang berlebihan dan sikap ini dapat menimbulkan spasmus
Cara penanganan :
Istirahat cukup, menggunakan penyokong abdomen eksternal,  gunakan mekanisme tubuh yang baik untuk mengangkat benda.
d.      Hiperventilasi dan sesak nafas
           Peningkatan jumlah progesteron selama kehamilan mempengaruhi pusat pernapasan untuk menurunkan kadar karbondioksida dan meningkatkan kadar oksigen. Peningkatan aktivitas metabolis yang terjadi selama kehamilan akan meningkatkan karbondioksida. Hiperventilasi akan menurunkan karbon dioksida. Sesak nafas terjadi pada trimester III karena pembesaran uterus yang menekan diafragma. Selain itu diafragma mengalami elevasi kurang lebih 4 cm selama kehamilan.
Cara penanganan :
·         Menjelaskan dasar fisiologis masalah tersebut
·         Mendorong wanita untuk secara sadar mengatur kecepan dan kedalaman pernafasannya saat sedang mengalami hiperventilasi
·         Anjurkan wanita berdiri dan mereganggan tangannya diatas kepalanya secara berkala dan mengambil nafas dalam
·         Instruksikan melakukan peregangan yang sama ditempat tidur seperti saat sedang berdiri.
e.       Edema Dependen
           Terjadi karena gangguan sirkulasi vena dan peningkatan tekanan vena pada ekstrimitas bawah karena tekanan uterus membesar pada vena panggul pada saat duduk/ berdiri dan pada vena cava inferior saat tidur terlentang. Edema pada kaki yang menggantung terlihat pada pergelangan kaki dan harus dibedakan dengan edema karena preeklamsi.
Cara penanganan :
·         Hindari menggunakan pakaian ketat
·         Elevasi kaki secara teratur setiap hari
·         Posisi menghadap kesamping saat berbaring
·         Penggunaan korset pada abdomen yang dapat melonggarkan tekanan vena-vena panggul
f.       Nyeri ulu hati
           Ketidaknyamanan ini mulai timbul menjelang akhir trimester II dan bertahan hingga trimester III.
Penyebab :
·         Relaksasi sfingter jantung pada lambung akibat pengaruh yang ditimbulkan peningkatan jumlah progesteron.
·         Penurunan motilitas gastrointestinal yang terjadi akibat relaksasi otot halus yang kemungkinan disebabkan peningkatan jumlah progesteron dan tekanan uterus
·         Tidak ada ruang fungsional untuk lambung akibat perubahan tempat dan penekanan oleh uterus yang membesar
       Cara penanganan :
·         Makan dalam porsi kecil tetapi sering untuk menghindari lambung menjadi terlalu penuh
·         Pertahankan postur tubuh yang baik supaya ada ruang lebih besar bagi lambung untuk menjalankan fungsinya
·         Hindari makanan berlemak, karena lemak mengurangi motilitas usus dan sekresi asam lambung yang dibutuhkan untuk pencernaan.
·         Hindari makanan pedas atau makanan lain yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan.
g.      Konstipasi
           Terjadi akibat penurunan peristaltik yang disebabkan relaksasi otot polos usus besar ketika terjadi peningkatan progesteron
Cara penanganan :
·         Asupan cairan yang adekuat
·         Istirahat cukup
·         Minum air hangat ( air putih, teh ) saat bangkit dari tempat tidur untuk menstimulasi peristaltik
·         Makan makanan berserat dan mengandung serat alami
·         Miliki pola defekasi yang baik dan teratur
·         Lakukan latihan secara umum, berjalan tiap hari, pertahankan postur tubuh yang bai, mekanisme tubuh yang baik, kontraksi otot abdomen bagian bawah secara teratur
h.      Kram tungkai
           Terjadi karena asupan kalsium tidak adekuat, atau ketidakseimbangan rasio dan fosfor.selain itu uterus yang membesar memberi tekanan pembulu darah panggul sehingga mengganggu sirkulasi atau pada saraf yang melewati foramen doturator dalam perjalanan menuju ekstrimitas bawah.
Cara penanganan :
·         Minta wanita meluruskan kaki yang kram dan menekan tumitnya ( dorsofleksikan kakinya )
·         Dorong wanita untuk melakukan latihan umum dan memiliki kebiasaan mekanisme tubuh yang baik guna meningkatkan sirkulasi darah
·         Anjurkan elevasi kaki secara teratur sepanjang hari
·         Anjurkan diet mengandung kalsium dan fosfor
i.        Kesemutan dan baal pada jari
           Perubahan pusat gravitasi menyebabkan wanita mengambil postur dengan posisi bahu terlalu jauh kebelakang sehingga menyebabkan penekanan pada saraf median dan aliran lengan yang akan menyebabkan kesemutan dan baal pada jari-jari
Cara penanganan :
·         Menjelaskan penyebab dari kesemutan dan baal jari-jari
·         Berbaring rileks
(Helen Varney, 2007 : 536-543 )

8.      Kebutuhan Ibu Hamil
a.  Kebutuhan Fisik ibu Hamil
1.      Kebutuhan oksigen
      Selama kehamilan kebutuhan oksigen ibu hamil meningkat sebanyak 20%. Hal ini disebabkan karena selam kehamilan pembesaran uterus dapat menekan diafragma sehingga tinggi diafragma bergeser 4cm dan kapassitas total (paru-paru berkurang 5%).
2.      Kebutuhan nutrisi
      Pada prinsipnya nutrisi selama kehamilan adalah makanan sehat dan seimbang yang harus di konsumsi ibu selama masa kehamilannya meliputi karbohidrat, protein, (60gr/hari), lemak,vitamin, dan mineral.
3.      Kebutuhan personal hygiene
      Macam-macam personal hygiene ibu hamil meliputi mandi, perwatan mulut ,perawatan kulit, perawatan payudara, dan pakaian.
4.      Kebutuhan eliminasi
·         Eliminasi urine dapat meningkat pada kehamilan trimester I dan trimester III karena adannya penekanan kandung kemih.
·         Eliminasi alvi cendrung tidak teratur karena adannya relaaksasi otot polos dan kompresi usus bawah oleh uterus yang membesar pada kehamilan dan serta karena adannya aksihormonal yang dapat mengurangi gerakan peristaltik usus.
5.      Kebutuhan seksual
      Biasanya gairah seksual ibu amil akan menurun pada trimester I dan trimester III sedagkan pada trimester II gairah ibu akan kembali.
6.      Kebutuhan Mobilitas
      Ibu hamil boleh melakukan olahraga asal tidak terlalu capek/ad resiko cidera bagi ibu/ janin. Ibu hamil dapat melakukan mobilitas misalnya dengan berjalan-berjalan. Hindari gerakan melonjak,meloncat/mencapai benda yang lebih tinggi.
7.      Istirahat dan tidur
      Anjurkan ibu untuk istirahat cukup ,setidaknya 1,5 jam pada siang hari dan 8-11 jan pada malam hari.
8.      Imunisasi
      Imunisasi TT perlu diberikan pada ibu hamil untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu, misalnya tetanus neonatorum.
9.      Persiapan persalinan dan kelahiran bayi
      Diberikan pada trimester I sampai trimester III meliputi persiapan fisik / fisiologis, persiapan psikologis, persiapan keuangan, persiapan tempat melahirkan, persiapan transportasi dan persiapan barang-barang kebutuhan ibu dan bayi.
b. Kebutuhan Psikologi Ibu Hamil
1.      Support Keluarga
Meliputi motifasi suami, keluarga, dan usaha untukmempererat ikatan keluarga. Sebaiknya keluarga menjalin komunikasi yangbaik, dengan itu untuk membantu ia dalam menyesuaikan diri dan menghadapi masalah selama kehamilannya karena sering kali merasa ketergantungan atau butuh pantauan orang-orang di sekitarnya.
2.      Support dari Tenaga Kesehatan
Dalam hal ini petugas kesehatan membantu ibu beradaptasi selama ibu hamil, membantu mengatasi ketidaknyamanan yang dialami ibu dan mengenal serta menghindari kemunglinan komplikasi. Selain itu petugas kesehan juga berperan dalam membantu untuk mempersiapkan untuk menjadi orang tua dan dalam mewujudkan kesehatan yang optimal.
3.      Persiapan Menjadi Orang Tua
Dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan Antenatal untuk membantu menyelesaikan ketakutan dan kehawatiran yang dialami para calon orang tua.

4.      Persiapan Sibling
Dipersiapkan untuk orang tua yang sudah memiliki nanak hal ini bertujuan untuk memudahkan anak sebelumnyaq beradaptasi dan menerima kenyataan terhadap kehidupan atau suasana lingkungan mereka yang baru.
(Bobak,2004 : 279-289)

B. KONSEP ANTENATAL CARE (ANC)
1.      Pengertian ANC
Antenatal Care adalah pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.
(Manuaba, 2010; 110)

2.      Tujuan ANC
a.       Mengenal dan menangani sedini mungkin penyulit yang terdapat saat kehamilan, saat persalinan, dan kala nifas.
b.      Mengenal dan menangani penyakit yang menyertai kehamilan, persalinan, dan kala nifas.
c.       Memberikan nasihat dan petunjuk yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, kala nifas, laktasi, dan aspek keluarga berencana.
d.      Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.
(Manuaba, 2010 : 111)

3.      Kebijakan Program
a.       Standart minimal asuhan antenatal (7T)
·         Timbang berat badan
·         Ukur tekanan darah
·         Ukur tinggi fundus uteri
·         Imunisasi TT
·         Pemberian tablet besi (minum 90 tablet selama kehamilan dan dimulai usia kehamilan 20 minggu)
·         Test terhadap PMS
·         Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan
b.      Standart minimal Kunjungan Kehamilan
Sebaiknya ibu memperoleh sedikitnya 4 kali kunjungan selama kehamilan , yang terdistribusi dalam 3 trimester, yaitu sbb:
·         1 kali pada trimester I
·         1 kali pada trimester II
·         2 kali pada trimester III

c.       Informasi Kunjungan Kehamilan
Kunjugan
Waktu
Informasi Penting
Trimester Pertama
Sebelum minggu ke 14
         Membangun hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dengan ibu hamil
         Mendeteksi masalah dan menanganinya
         Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum, anemis kekurangan zat besi, penggunaan praktik yang merugikan
         Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi
         Mendorong perilakuk yang sehat (giat, latihan dan kebersihan, dsb)
Trimester kedua
Sebelum minggu ke 28
Sama seperti diatas ditambah kewaspadaan khusus mengenai preeklampsia ( tanya ibu tentang gejala – gejala preeklapmsia, pantau TD, evaluasi edema, periksa untuk mengetahui proteinuria)
Trimester ketiga
Antara minggu 28 – 36
Sama seperti diatas, ditambah palpasi abdominal untuk mengetahui apakah ada kehamilan ganda
Trimester ketiga
Sama seperti diatas, ditambah deteksi letak bayi yang tidak normal, atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran dirumah sakit.
(Marjati dkk, 2010 ;9-13)

4.      Penapsiran Ibu Hamil
Ibu hamil dibagi dalam 3 kelompok yaitu:
a.       Kehamilan Resiko Rendah (KKR) skor 2 hijau
Kehamilan normal tanpa masalah/faktor resiko
Kemungkinan besar: persalinan normal,tetap waspada komplikasi persalinan Ibu dan Bayi baru lahir Hidup Sehat.
b.      Kehamilan Resiko Tinggi (KRT) skor 6 – 10 kuning
Kehamilan dengan faktor resiko, baik dari ibu dan atau janin dapar menyebabkan komplikasi persalinan. Dampak kematian / kesakitan / kecacatan pada ibu dan atau bayi baru lahir.
c.       Kehamilan Resiko Sangat Tinggi (KRST) skor ≥12 merah
Kehamilan dengan faktor resiko ganda 2 lebih baik dari ibu dan atau janinnya yang dapat menyebabkan
·         lebih besar resiko/ bahaya komplikasi persalinan
·         lebih besar dampak kematian ibu dan atau bayi
5.  Pemeriksaan Umum
K/U : Baik/ tidak, cemas/tidak, untuk mengetahui keadaan umum pasien secara keseluruhan (Ari S,2009;174)
Kesadaran : Composmentis/apatis/letargis/somnolen (Ari S,2009;174)
TD  : tekanan darah pada orang normal rata – rata 120/80 mmHg dengan diastole  maksimal 140 mmHg dan sistole maksimal 90 mmHg. (Patricia,2005; 759). Pada ibu hamil tekanan darah menurun hingga pertengahan kehamilan. Tekanan sistolik menurun hingga 8 – 10 mmHg sedangkan diatolik mengalami penurunan 12 poin (Helen Varney,2007;499)
Nadi : N= 70x/menit, ibu hamil 80 – 90x/menit. (Ari S,2009:61)
Suhu : Normal (36,5oC-37,5oC) (Patricia,2005:759) bila suhu tubuh hamil > 37,5 C dikatakan demam, berarti ada infeksi dalam kehamilan.
RR : Normal (12-20 x/menit)(Patricia,2005;759)
Jumlah pernapasan, kapasitas vital, dan kapasitas napas maksimum tidak terpengaruh selama kehamilan berlangsung.(Varney,2007:500). Ibu hamil akan bernapas lebih dalam sekitar 20 – 25 % dari biasanya (manuaba,1998:109)
BB : ... Kg (trimester I bertambah 4 kg, trimester II dan III bertambah 0,5kg/hari) (Ari S,2009; 69)
TB  : < dari 145 cm.(resiko meragukan, berhubungan dengan kesempitan panggul) (manuaba,1998;134)
Lila : > 23,5 cm. Jika <23,5 merupakan indikator status gizi kurang.

6.   Pemeriksaan  Fisik
a.   Inspeksi.
Rambut : bersih/kotor, warna hitam/merah jagung, mudah rontok/tidak
Muka :  Muka bengkak/oedem tanda eklampsi, terdapat cloasma gravidarum sebagai tanda kehamilan. Muka pucat tanda anemia, perhatikan ekspresi ibu, kesakitan atau meringis.
Mata :  Konjungtiva pucat menandakan anemia pada ibu yang akan mempengaruhi kehamilan dan persalinan yaitu perdarahan, Sclera icterus perlu dicurugai ibu mengidap hepatitis
Hidung :  Simetris, adakah sekret, ada kelainan lain.
Mulut&gigi  :  Bibir pucat tanda ibu anemia, bibir kering tanda dehidrasi, sariawan tanda ibu kekurangan vitamin C. Caries gigi menandakan ibu kekurangan kalsium.
Leher : Adanya pembesaran kelenjar tyroid menandakan ibu kekurangan iodium, sehingga dapat menyebabkan terjadinya kretinisme pada bayi dan bendungan vena jugularis/tidak
Dada :  bagaimana kebersihannya, Terlihat hiperpigmentasi pada areola mammae tanda kehamilan, puting susu datar atau tenggelam membutuhkan perawatan payudara untuk persiapan menyusui. Adakah striae gravidarum
Genetalia :  bersih/tidak, varises/tidak, ada condiloma/tidak keputihan/tidak.
Ekstremitas  : Adanya oedem pada ekstremitas atas atau bawah dapat dicurigai adanya hipertensi hingga Preeklampsi dan Diabetes melitus, varises.tidak, kaki sama panjang/tidak memepengaruhi jalannya persalinan. (Ummi Hani dkk, 2006;96)
b.      Palpasi.
Tujuan:
·         Untuk mengetahui umur kehamilan
·         Untuk mengetahui bagian bagian janin
·         Untuk mengetahui letak janin
·         Janin tunggal atau tidak
·         Sampai dimana bagian terdepanjanin masuk kedalam rongga panggul
·         Adakah keseimbangan antara ukuran kepala dan janin
·         Untuk mengetahui kelainan abnormal ditubuh
Letak palpasi
Kepala : adakah benjolan abnormal
Leher :  Tidak tampak pembesaran vena jugularis. Jika ada hal ini berpengaruh pada saat persalinan terutama saat meneran. Hal ini dapat menambah tekanan pada jantung. Potensial terjadi gagal jantung.
Tidak tampak pembesaran kelanjar tiroid, jika ada potensial terjadi kelahiran prematur, lahir mati, kretinisme dan keguguran.
Tidak tampak pembesaran limfe, jika ada kemungkinan terjadi infeksi oleh berbagai penyakit misal TBC, radang akut dikepala
Dada :  Adanya benjolan pada payudara waspadai adanya Kanker payudara dan menghambat laktasi. Kolostrum mulai diproduksi pada usia kehamilan 12 minggu tapi mulai keluar pada usia 20 minggu.
Abdomen :
1.      Leopold I      : Untuk menentukan usia kehamilan berdasarkan TFU dan bagian yang teraba di fundus uteri.
Pengukuran tinggi fundus uteri
·         Sebelum bulan III tinggi fundus uteri belum bisa diraba
·         12 minggu TFU 1 – 2 jari diatas symphisis
·         16 minggu TFU pertengahan antara symphisi dan pusat
·         20 minggu TFU 3 jari dibawah pusat
·         24 minggu TFU setinggi pusat
·         28 minggu TFU 3 jari diatas pusat
·         32 minggu TFU pertengahan antara pusat dan procesus xymphoideus
·         36 minggu TFU 3 jari dibawah procesus xymphoideus
·         40 minggu TFU pertengahan antara pusat dan procesus xymphoideus
Tanda kepala : keras, bundar, melenting
Tanda bokong: lunak, kurang bundar,kurang melenting.
2.      Leopold II : Menentukan letak punngung anak padaletak memanjang dan menentukan letak kepala pada ketak lintang
3.      Leopold III   :           Menentukan bagian terbawah janin, dan apakah bagian terbawah sudah masuk PAP atau belum.
4.      Leopold IV     :           Seberapa jauh bagian rerbawah masuk PAP,
Ekstremitas : Adanya oedem pada ekstremitas atas atau bawah dapat dicurigai adanya hipertensi hingga Preeklampsi dan Diabetes melitus.
c.       Auskultasi
Tujuan: menentukan hamil atau tidak
Anak hidup atau mati
Membantu menentukan habitus, kedudukan punggunh anak, presentasi anak tunggal/ kembar yaitu terdengar pada dua tempat dengan perbedaan 10 detik.
Dada            : Adanya ronkhi atau wheezing perlu dicurigai adanya asma atau TBC yang dapat memperberat kehamilan.
Abdomen     : DJJ (+) normal 120-160 x/menit, teratur dan reguler.
d.      Perkusi.
Reflek patella     :Reflek patella negatif menandakan ibu vit B1
(Marjati dkk, 2010; 12-13)

7.   Pemeriksaan Penunjang
a.       Pemeriksaan laboratorium
      Wanita hamil diperiksa urinnya untuk mengetahui kadar protein glukosanya, diperiksa darah untuk mengetahui faktor rhesus, golongan darah, Hb dan penyakit rubella
Tes Lab
Nilai Normal
Nilai Tidak Normal
Diagnosis Masalah Terkait
Hemoglobin
10,5-14,0
<10,5
Anemia
Protein Urin
Terlacak/negatif
Bening/negatif
Protein urine
Glukosa dalam urin
Warna hijau
Kuning, orange, coklat
Diabetes
VDRL/RPR
Negatif
Positif
Syphilis
Faktor rhesus
Rh +
Rh-
Rh sensitization
Golongan Darah
A B O AB
-
Ketidakcocokan ABO
HIV
-
+
AIDS
Rubella
Negatif
Positif
Anomali pada janin jika ibu terinfeksi
Feses untuk ova/telur cacing dan parasit
Negatif
Positif
Anemia akibat cacing

b.      Pemeriksaan Rontgen
Dilakukan pada kehamilan yang sudah agak lanjut karena sebelum buan ke IV rangka janin belum tampak. Pemeriksaan rontgen dilakukan pada kondisi – kondisi
         Diperlukan tanda pasti hamil
         Letak anak tidak dapat ditentukan dengan jelas dengan palpasi
         Mencari sebab dari hidraamnion
         Untuk menentukan kelainan anak
c.       Pemeriksaan USG
Kegunaannya:
         Diagnosis dan konfirmasi awal kehamilan
         Penentuan umur gestasi dan penafsiran ukuran fetal
         Mengetahui posisi plasenta
         Mengetahui adanya IUFD
         Mengetahui pergerakan janin dan detak jantung janin. (Marjati dkk, 2010;95-97)

8.  Diagnosa Keperawatan
1.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan keinginan untuk makan akibat mual  dan muntah.
2.      Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltic sekunder akibat kehamilan
3.      Ansietas berhubungan dengan konsep diri sekunder akibat kehamilan.
4.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, dispnea sekunder akibat penekanan pembesaran uterus pada diafragama dan peningkatan volume darah
5.      Risiko terhadap perubahan membrane mukosa oral berhubungan membrane mukosa oral berhubungan dengan gusi hiperemik sekunder akibat kadar estrogen dan progesterone.

9.  Intervensi
1.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan keinginan untuk makan akibat mual  dan muntah.
Kriteria hasil
-          Meningkatkan masukan oral
-          Menjelaskan factor-faktor penyebab bila diketahui
Intervensi
-          Tentukan kebutuhan kalori harian yang realistis dan adekuat
-          Timbang BB setiap hari
-          Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat
-          Beri dorongan individu makan makanan yang kering
2.      Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltic sekunder akibat kehamilan
Kriteria hasil
-          Menggambarkan program defekasi terapeutik
-          Melaporkan eliminasi yang baik
Intervensi
-          Jelaskan risiko konstipasi pada kehamilan
-          Jelaskan  factor pemberat untuk terjadinya hemoroid
-          Pertimbangkan kebutuhan untuk laksatif
3.      Ansietas berhubungan dengan konsep diri sekunder akibat kehamilan.
Kriteria hasil
-          Menggambarkan ansietas dan pola kopingnya
-          Menghubungkan peningkatan kenyamanan psikologis
-          Menggambarkan mekanisme kopinh yang efektif
Intervensi
-          Gali ketakutan dan kekhawatiran selama hamil
-          Bantu pasangannya mengenali harapan yang tidak realistis
-          Terima ansietasnya dan kenormalan dari proses tersebut
-          Diskusikan kekhawatiran inin dengan klien dan pasangannya
4.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, dispnea sekunder akibat penekanan pembesaran uterus pada diafragama dan peningkatan volume darah
Kriteria hasil
-          Mengidentifikasi factor-faktor yang menurunkan toleransi aktivitas
-          Menurunkan penurunan gejala-gejala intoleransi aktivitas
Intervensi
-          Jelaskan penyebab keletihan dan dispnea pada pertnegahan kehamilan dan masa akhir kehamilan
-          Perubahan pada pusat gravitasi
-          Peningkatan berat badan
-          Tekanan pembesaran uterus pada diafragma
-          Ajarkan metode penghematan energy
5.      Risiko terhadap perubahan membrane mukosa oral berhubungan membrane mukosa oral berhubungan dengan gusi hiperemik sekunder akibat kadar estrogen dan progesterone.
Kriteria hasil
-          Memperlihatkan integritas rongga mulut
-          Bebeas dan rasa tidak nyaman saat makan dan minum
Intervensi
-          Diskusikan pentingnya hygiene oral setiap hari dan pemeriksaan gigi secara periodic
-          Ingatkan untuk memberi tahu dokter gigi tentang kehamilan
-          Jelaskan bahwa hipertropi dan nyeri tekan guzi adalah normal pada kehamilan.


















Daftar Pustaka
·        Carpenito, L.J. 2001. Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC

·        Bobak,M.Irene.2004. Perawatan Maternitas dan Gynekologi.Bandung: VIA PKP

·        Manuaba, Ida Bagus Gde.2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC

·        Marjati,dkk.2010. Asuhan Kebidanan pada Kehamilan Fisiologis.Jakarta: Salemba Medika

·        Potter, Patricia A, Anne Griffin Perry.2005.Buku Ajar Fundamental Keperawatan:Konsep, Proses, dan Praktik.Jakarta:EGC

·        Prawirohardjo,Sarwono.2007.Ilmu Kebidanan.Jakarta:PT Bina Pustaka

·        Sulistyawati, Ari.2009.Asuhan Kebidanan pada Masa Kehamilan.Jakarta:Salemba Medika

·        Ummi Hani,dkk.2006. . Asuhan Kebidanan pada Kehamilan Fisiologis.Jakarta: Salemba Medika

·        Varney,Helen.2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Volume I.Jakarta: EGC